Tag Archives: neuroscience

Desain Antarmuka Aplikasi untuk Anak Autis (TaLNA)

Riset Talkers, Kamaruzaman, et al. melakukan penelitian dalam pengembangan desain antarmuka aplikasi untuk anak autis. Tapi, sebelum lebih jauh menjelaskannya, Riset Talkers tau ngak sih apa itu Autis?. Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas. Autisme merupakan gangguan perkembangan individu dan itu terjadi seumur hidup. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam penguasaan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Anak autis sering disebut sebagai “visual thinker” (Frauenberger et al., 2012). Sejumlah peneliti telah menemukan bahwa anak autis bereaksi lebih cepat melalui media visual daripada sensoris (Hayes et al.,2010;Mc Kone et al., 2010; Milley & Machalicek, 2012).

Metode digital mungkin tidak sepenuhnya menggantikan metode tradisional tapi dapat melengkapi metode eksisting dengan menyediakan kemudahan bagi pengguna. Dunia teknologi maju begitu pesat sehingga tidak hanya menjadi alat bantu yang diperlukan dalam kegiatan sehari-hari, namun penggunaannya dibuat lebih signifikan dengan membantu orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Dalam melengkapi metode tradisional untuk mendukung proses pengajaran dan pembelajaran untuk anak autis, Kamaruzaman, et al. dalam penelitiannya memberikan rekomendasi penggunaan TaLNA (touchscreen-assistive learning numeracy apps). Aplikasi dibuat dalam “touchscreen mobile application”. Continue reading Desain Antarmuka Aplikasi untuk Anak Autis (TaLNA)

Neuroscience: Sensor Motorik menggunakan perintah pikirian

Ian Burkhart menggunakan NeuroLife technology, yang dikembangkan di Ohio State University. Credit: Ohio State University

Riset Talkers, pada kesempatan kali ini kita akan membahas riset terbaru dari Ohio State University, Amerika Serikat pada bidang Neuroscience. Seorang bernama Bukhart berusia 24 tahun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tangannya lumpuh pada tahun 2010. Hal ini mengakibatkan ia harus selalu meminta bantuan orang lain untuk melakukan hal hal kecil seperti mengambil minum, membuka tutup botol dan lain sebagainya.

Namun sekarang, berkat riset teknologi terbaru dari Battelle, salah satu lembaga riset non profit beserta Ohio State University, nampaknya akan ada angin segar bagi Bukhart. Teknologi ini mengaplikasikan kekuatan pikiran untuk menggerakkan sensor motorik. Continue reading Neuroscience: Sensor Motorik menggunakan perintah pikirian