8 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Saat Merancang TV Experiences

Experience design pada televisi
Experience design pada televisi

Riset Talkers, Nielsen pada salah satu artikelnya menyatakan bahwa secara keseluruhan, konsumsi media di kota-kota baik di Jawa maupun Luar Jawa menunjukkan bahwa Televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (95%), disusul oleh Internet (33%), Radio (20%), Surat Kabar (12%), Tabloid (6%) dan Majalah (5%). Konsumsi media Televisi lebih tinggi di luar Jawa (97%), disusul oleh Radio (37%), Internet (32%), Koran (26%), Bioskop (11%), Tabloid (9%) dan Majalah (5%).

Dapat kita lihat bersama-sama bahwa sebagian besar hunian penduduk memiliki TV, bahkan ada yang memiliki lebih dari 1 TV dirumahnya. Menonton TV menjadi semacam rekreasi universal dan kegiatan mencari informasi. Meskipun demikian, dengan semua perkembangan teknologi pada dunia pertelevisian, masih sangat sedikit panduan bagi desainer, insinyur, inovator dalam menentukan proses terbaik ketika membangun dan merancang produk dan tampilan TV.

Mungkin kita hampir tidak pernah berfikir, bagaimana TV dan perangkat yang melengkapinya seperti remote control diciptakan seperti itu. Tetapi, Noor Ali-Hasan yang merupakan peneliti user experience pada tim android google dan Bianca Soto seorang peneliti user experience pada android TV di google, memberikan gambaran pada kita, mengenai hal-hal yang perlu dipertimbangkan saat merancang TV experience. Berikut adalah penjelasannya:

1. Menonton TV (masih) menjadi kegiatan utama

Seringnya desainer, insinyur, inovator fokus dalam pembuatan fitur baru yang menarik, tetapi melupakan kebutuhan utama pengguna saat melihat TV seperti pencarian saluran TV, pengaturan rekaman DVR, atau pencarian panduan program elektronik. Beberapa hal tsb kritikal dalam menciptakan TV experience yang baik. Sebaiknya dalam menciptakan fitur baru, desainer tidak mengabaikan kegiatan utama saat menggunakan TV, seperti pencarian dan melihat konten video.

2. TV adalah perangkat bersama

Dalam merancang TV experience yang baik kita harus mempertimbangkan bahwa TV disaksikan sekumpulan orang secara bersama-sama. Akan tetapi kita harus tetap memperhatikan bahwa sekelompok penonton tersebut merupakan sekumpulan individu yang memiliki keinginan masing-masing. Dengan mempertimbangkan bahwa desain TV harus mencakup kebutuhan multi-user dan single-user maka akan membuat TV experience yang baik dalam kelompok atau individu.

3. Remote control tradisional masih menjadi pilihan baik untuk mengendalikan TV

Remote control dengan desainnya yang memiliki banyak tombol membuat tidak praktis dan susah untuk digunakan. Meski dengan keterbatasan tsb, remote control adalah model interaksi yang baik untuk perangkat yang digunakan bersama.

4. Smartphone dan tablet remote control apps memberikan janji tetapi juga memiliki beberapa masalah yang belum terselesaikan

Smartphone dan tablet remote control apps dapat melebihi beberapa keterbatasan remote control tradisional. Bagi pengguna yang terbiasa menggunakan smartphone dan tablet akan sangat terbantu dengan penggunaan aplikasi tsb dalam mencari konten tertentu, bahkan lebih cepat dibanding menggunakan remote control tradisional. Tetapi model interaksi pada aplikasi tsb didesain untuk one to one, bukan one to many (device to user model). Hal ini menyebabkan adanya ketidakjelasan siapa yang mengontrol TV ketika ada pengguna yang banyak. Selain itu, aplikasi tsb tidak diperuntukkan bagi penonton yang tidak memiliki smartphone atau tablet.

5. Paradigma interaksi baru tidak selalu cocok untuk TV

Interaksi baru seperti gerak dan suara sangat inovatif tetapi tidak terlalu cocok digunakan untuk TV. Interaksi gerak dalam game menciptakan sebuah genre baru yang menyenangkan dan interaktif. Tetapi ketika digunakan untuk mengontrol TV akan terlalu melelahkan dan sulit bagi beberapa pengguna. Disisi lain, menggunakan suara untuk mengontrol TV akan lebih mudah dibanding menggunakan remote control tradisional tetapi bagi sebagian pengguna kemungkinan memiliki kecanggungan sosial dalam penggunaannya didepan teman atau keluarganya.

6. Perbedaan waktu dapat diakomodasi, tetapi banyak TV yang masih dilihat secara langsung

Apakah melalui layanan streaming, layanan permintaan atau rekaman DVR, banyak pengguna yang menonton TV pada jam yang dikehendaki. Tetapi meskipun demikian, masih banyak program TV yang dilihat saat siaran berlangsung. Nielsen memperkirakan bahwa hampir 90% TV ditonton secara langsung. Penggunaan TV secara langsung seperti mengubah saluran TV dan menggunakan panduan program elektronik cukup kritikal dalam keberhasilan penerapan produk TV yang interaktif.

7. TV itu sederhana (dalam cara yang baik)

TV adalah perangkat yang sudah melekat pada kehidupan masyarakat diseluruh dunia karena kemudahannya. TV adalah perangkat universal tanpa kendala bahasa, gender, usia atau pendidikan. Pengguna mengharapkan konten TV sudah tepat ketika dinyalakan dan TV experience tradisional memenuhi hal tsb dengan baik. Meskipun TV dihubungkan dengan internet, tidak seharusnya mekanisme TV dibuat seperti komputer atau smartphone dimana pengguna harus melakukan update secara berkala. Proses updating yang dilakukan didalam perangkat tanpa mengganggu pengguna adalah mekanisme yang paling baik.

8. TV dapat digunakan untuk menyendiri

Pengguna TV tidak selalu ingin membagi TV dengan teman atau keluarganya. Dengan memberikan mode pribadi bagi pengguna dalam menggunakan TV akan memberikan nilai lebih pada TV. Mode pribadi pada TV akan memberikan kendali bagi pengguna atas apa yang ingin dibagi atau tidak sehingga dapat membantu pengguna dalam menikmati TV tanpa batasan.

Sumber:

  1. https://static.googleusercontent.com/media/research.google.com/en//pubs/archive/43865.pdf
  2. http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2014/nielsen-konsumsi-media-lebih-tinggi-di-luar-jawa.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *