Dr Isaiah Hankel: 5 Hal yang ditolak dilakukan oleh Mahasiswa PhD yang Sukses

 Too many PhD students feel as if they can’t do anything but show up to the lab and look busy

Di tahun pertama menjadi mahasiswa PhD, hari-hari bisa begitu membosankan, khususnya ketika mengikuti beberapa kelas dan mempelajari eksperimen dan prosedur baru dalam lab. Namun ada sesuatu yang BerBEDA dan menginspirasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa sehingga menjadi PhD yang sukses dan berpengalaman. Ada hal tidak kita sadari yang disebut dengan penolakan. Berikut ini 5 penolakan yang biasa terjadi pada mahasiswa PhD :

1. Perasaan Gagal
Seperti kebanyakan mahasiswa, seorang PhD biasanya adalah orang yang paling pintar di sekolahnya, namun ketika
dikampus, setiap orang pintar. Tidak ada yang spesial semuanya normal, seperti ikan besar didalam kolam kecil berpindah ke tempat seharusnya dia berada. Banyak mahasiswa yang merasakan kegagalan, beberapa diantaranya dapat bertahan dan diantaranya mengalami gangguan mental.

Perasaan gagal sebagai mahasiswa PhD merupakan isu yang serius. Penelitian mengatakan gangguan mental meningkat pada perkembangan ditempat akademis. Alasan yang paling kuat adalah karena banyak dari mahasiswa yang memiliki sifat perfeksionis dan tidak dapat menerima kegagalan sebagai proses dari belajar. Banyak dari mereka juga tidak ingin meminta bantuan mahasiwa lain ataupun fakultas. Sehingga pada akhirnya mereka mengisolasi diri mereka sendiri dan bekerja keras dan lebih keras hingga merugikan diri mereka.

Mahasiswa PhD yang sukses tidaklah perfeksiionis, dan mereka tidak mengurung diri. Mereka sadar kegagalan adalah cara yang paling cepat untuk belajar. Mereka tidak malu mengatakan “Aku tidak tahu”, mereka juga tidak malu untuk meminta bantuan khususnya ketika menghadapi permasalahan nyata seperi depresi, stress, dan isu masalah mental lainnya. Mengakui bahwa kita tidak mengetahui sesuatu atau meminta bantuan bukanlah kegagalan tapi keberhasilan.

Kuncinya adalah mengizinkan kegagalan tanpa merasakannya sebagai sebuah kegagalan. Jika merasa gagal jangan mengurung diri. Mintalah bantuan dan dukungan dari sekitarmu.

2. Perasaan diluar Kendali
Sangat mudah merasakan kita seperti diluar kendali sebagai mahasiswa postgrad. Adviser seperti “mengendalikan” kita di lab, para reviewer juga seperti “mengendalikan” artikel yang akan kita publikasikan, dan komite juga ‘mengendalikan’ kapan kita akan lulus. Tapi semua hal itu adalah perspektif kita.

Kenyataannya, kita yang memiliki kendali atas hidup kita. Ambil kembali kendali pada sesuatu yang terjadi. Mulailah hobi yang baru. Kebanyakan mahasiswa PhD merasakan bahwa mereka tidak dapat melakukan hal lain selain di duduk di lab, melakukan eksperimen, terlihat sibuk sehingga para adviser tidak marah. Ini adalah hidupmu, maka hiduplah. Kita akan lebih produktif dengan pekerjaan sampingan dibandingkan menunggu izin untuk publikasi dan lulus.

3. Memposisikan Diri sebagai Pekerja
Satu paradox terbesar dalam dunia pendidikan adalah kita dilatih untuk menjadi seseorang yang inovatif juga mengikuti dan menghargai aturan kampus. Sulit bagi seseorang yang ingin mengikuti seminar setiap tahunnya, membayar sewa juga menafkahi keluarga dengan kondisi kampus yang sekarang dirasa sangat sulit. Jangan posisikan diri kita sebagai karyawan/pekerja, jangan terlalu nyaman menjadi peneliti full-time di sebuah R&D department dengan penghasilan yang pas-pas2an. Jadilah seorang inovator. Banyak mahasiswa yang sudah membangun perusahaan atau bergabung dengan beberapa bisnis start up yang sukses sambil melanjutkan penelitian mereka. Apa yang dibutuhkan adalah ide dan relasi untuk memulai penghasilan untuk diri kita sendiri.

Para ilmuwan melahirkan banyak pengusaha. Sedikit orang yang memiliki kesempatan dilatih spesifik dalam hal inovasi, ini adalah kesempatan kita.

4. Stress Mengenai Publikasi
Tujuan kita selama menempuh study postgrad seharusnya membangun dasar pengetahuan dan relasi, kenyataannya kita tidak perlu me-publish paper bahkan sebagai penulis utama selama study untuk mendapatkan gelar PhD. Berhenti mengejar target seperti ini dan mulai buka diri dari semua peluang untuk pengetahuan dan semua yang terjadi disekitar kita.

5. Kembali ke Peluang Bisnis
Institusi pendidikan tinggi memerlukan pendanaan untuk berjalan, seorang mahasiswa PhD yg sukses mengetahui ini. Oleh karena itu mereka mengikuti kelas bisnis, bergabung dengan grup pengusaha dan bisnis untuk melatih skill bisnis mereka. Jangan tunggu sampai thesis anda selesai untuk mengembangkan skill bisnis, lakukan sekarang. Mahasiswa yang sukses setidaknya menghabiskan setengah waktunya untuk membangun sebuah relasi, sekaligus melanjutkan studi mereka.

sumber:
http://www.theguardian.com/higher-education-network/blog/2014/may/02/five-things-successful-phd-students-refuse-to-do

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *