Harus Seberapa ‘Cerdaskah’ Kecerdasan Buatan? Mengevaluasi Turing Test

Robot dengan kecerdasan buatan
Robot – Kecerdasan Buatan – Pocketscientist.com

Para ahli di bidang kecerdasan buatan / artificial intelligence (AI) akan berkumpul pada acara konvensi tahunan Association for the Advancement of Artificial Intelligence pada tanggal 25 Januari 2015, di Austin, Texas, Amerika Serikat. Mereka berkumpul untuk mengadakan sebuah workshop untuk membahas tes alternatif yang digunakan untuk menguji keberhasilkan tingkat kecerdasan sebuah AI untuk menggantikan Turing Test yang selama ini digunakan.

Turing Test yang dicetuskan oleh Alan Turing pada tahun 1950 bertujuan untuk menguji apakah sebuah program komputer itu cerdas. Tes tersebut dilakukan dengan membiarkan seorang penguji (C) melakukan sesi tanya-jawab (dengan text) dengan sebuah mesin (A) dan manusia (B), dan pada akhir sesi tersebut C diharuskan untuk menentukan diantara A dan B manakah yang sebuah mesin (program komputer). Jika C dapat membedakan dengan mudah maka AI tersebut tidak begitu “cerdas”, sedangkan jika C tidak dapat menentukan dengan benar yang mana yang mesin dan yang mana manusia maka dapat disimpulkan bahwa program komputer tersebut “cerdas” karena dapat meniru kemampuan manusia menjawab pertanyaan seperti layaknya manusia.

 

Turing Test, C mengajukan pertanyaan kepada A dan B dan akhirnya menentukan apakah A dan B adalah mesin atau manusia. – Wikipedia

Pada masa awal perkembangan penelitian AI, tingkat kesulitan tes tersebut (Turing Test) masih sangat jauh diatas kemampuan program komputer pada masa itu. Akan tetapi saat ini telah banyak bermunculan “chatbot” yang sangat sederhana menggunakan beberapa kata-kata kunci dan kalimat-kalimat yang dirangkai sangat bagus, telah dapat mengelabui, orang-orang yang tidak sadar, bahwa mereka sedang melakukan percakapan dengan manusia. Kasus terakhir adalah pada bulan Juni 2014, sebuah program komputer “menyamar” menjadi seorang anak Ukraina berusia 13 tahun bernama Egene Goostman telah berhasil “mengelabui” cukup banyak orang di Inggris bahwa ia adalah seorang manusia (meskipun diprogram tersebut dibantu oleh kondisi bahwa mereka percaya sedang berbicara dengan seorang anak remaja yang memiliki kemampuan bahasa Inggris terbatas).

Kemenangan Goostman tersebut kemudian disebarkan oleh media secara berlebihan hingga akhirnya Gary F. Marcus , seorang peneliti psikologi New York University, mengangkat isu tentang apakah Turing Test menjadi mudah untuk dipermainkan, dan mendesak komunitas AI untuk mencari penggantinya yang lebih baik. Dan tidak disangka-sangka para peneliti dari penjuru dunia bersedia untuk memberikan bantuan terkait hal tersebut. Dan sebagai tindak lanjutnya akan diadakan workshop untuk membahas hal tersebut.

Salah satu kritik terhadap Turing Test adalah tes tersebut terlalu menekankan pada  kemampuan berbahasa di atas kemampuan lainnya seperti vision atau movement. Marcus berharap dari workshop tersebut akan dihasilkan serangkaian tes yang dapat menguji berbagai area kecerdasan yang dideskripsikan olehnya sebagai “Turing triathlon”. Beberapa orang peneliti yang mengikuti workshop tersebut diantaranya Manuela Veloso dari Carniege-Mellon University yang menekankan tentang pentingnya sebuah komputer untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan dunia nyata. Kemudian kan hadir pula Peter Clark dari Allen Institute for Artificial Intelligence, akan mendeskripsikan hasil pekerjaan kelompok penelitiannya tentang memberi kemampuan membaca buku pengetahuan alam anak sekolah menengah kepada komputer untuk kemudian menjawab tes terstandarisasi mengenai materi tersebut. Pembicara lainnya adalah Patrick Henry Winston dari MIT, akan berbicara tentang penelitiannya terkait dengan memberi kemampuan komputer untuk memahami cerita.

Dari serangkaian tes yang akan dihasilkan dari workshop ini nantinya, pasti masih ada cara untuk “mempermainkan” tes tersebut seperti halnya yang dilakukan oleh “chatbot”, atau sepak bola robot di mana sebuah robot dengan sengaja menduduki bola sehingga pertandingan dapat berakhir seri. Bagi Marcus sendiri, semua itu sangatlah buruk. “Jika dalam 10 tahun komputer dapat melampaui semua tes dengan menggunakan cara curang dan jalan pintas, dan bukan dengan sesuatu yang menyerupai kecerdasan yang asli, kami tidak akan bahagia. Kami akan mengejar kecerdasan yang sebenarnya.”

Bagaimana menurut Riset Talkers? Bagaimana kecerdasan buatan yang “cerdas” itu?

Sumber: http://spectrum.ieee.org/robotics/artificial-intelligence/artificialintelligence-experts-to-explore-turing-test-triathlon

Author Image

About Anang D. Satria

Anang Dista Satria has passion in computer science research and technopreneurship. His dream is to build his own hi-tech research based company.

One thought on “Harus Seberapa ‘Cerdaskah’ Kecerdasan Buatan? Mengevaluasi Turing Test

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *